Besi Beton SNI + Wiremesh Standar



Besi polos 8, 10, 12 & wiremesh Bojonegoro - Surabaya

99: Salam..

Saya ingin info tentang *Produk-Jayasteel* Nama saya :y--

Alamat : bojonegoro

ma: Kebutuhan nya apa saja?

Ukuran berapa?

Berapa banyak?

99: Besi polos 8, 10, 12 dan wiremesh. Apakah ada minimum pembelian? apakah free ongkir ke bojonegoro?

ma: Kira-kira kebutuhan berapa banyak

99: Sekitar kurang lebih 500 lonjor 


 Besi polos 8, 10, 12 & wiremesh Bojonegoro - Surabaya

wermesh roll m5 & m6 (Wiremesh) Solo - Surabaya

37: Salam..

Saya ingin info tentang *Produk-Jayasteel* Nama saya : B--

Alamat : solo

ma: Kebutuhan ukuran berapa

ma: Berapa banyak

37: wermesh roll m5 dan m6 punya mas?

37: lokasi mana?

ma: Surabaya

ma: Kira-kira kebutuhan berapa banyak?

ma: kurang lebih cuman 20 roll mas

 

 wermesh roll m5 & m6 (Wiremesh) Solo - Surabaya

order begel + besi beton + wermesh roll m5 dan m6

55: *Saya ingin info mengenai Produk JayaSteel* 

Jenis : besi beton

Ukuran : 16 dan 12 

Jumlah : 160 batang

...

ma: Untuk daerah mana 


19: Mlm mas bade order begel kalian besi beton mbtn.

37: Salam..

Saya ingin info tentang *Produk-Jayasteel* Nama saya : B--

Alamat : solo

37: wermesh roll m5 dan m6 punya mas?

37: kurang lebih cuman 20 roll mas

22: Selamat sore pak..saya o-- dari pt bluemar bali.mau tanya harga besi 8mm dan besi 13 ulir.πŸ™

22: Besi 8mm polos 355 batang 

Besi 13 ulir 462 batang

99: Selamat pagi pak. 

Ada stok wermesh 4,7 pak.. 

Sy butuh 3 roll

99: Biar sy ambil pak.. 

Sy lokasi kediri..

 

order begel + besi beton + wermesh roll m5 dan m6

besi ulir 6,8,10 Harga per batang Tuban - Surabaya

73: *Saya ingin info mengenai Produk JayaSteel* 

Jenis :besi ulir

Ukuran :6,8,10

Jumlah 

...

73: Harganya berapa pak per batangnya

ma: Kebutuhan berapa banyak

ma: Untuk daerah mana

73: Daerah Senori

ma: Daerah mana itu?

73: Daerah tuban

ma: Kira-kira kebutuhan berapa banyak

73: Yang ini perbatangnya berapa pak

73: Pagi pak

73: Saya mau nanya

73: Harga ukuran besi 6,8,10 yang ulir per batangnya berapa ya terimakasih 

besi ulir 6,8,10 Harga per batang Tuban -  Surabaya

Wiremesh Roll M6 Demak - Surabaya

--5000: *Saya ingin info mengenai Produk JayaSteel* 

Jenis : weirmesh roll

Ukuran : M6

Jumlah :

...

5000: Harga berapa?

ma: Kebutuhan berapa banyak

ma: Untuk daerah mana

5000: Rencana ambil 10 roll

5000: Utk Demak Jateng 


Wiremesh Roll M6 Demak - Surabaya

Harga besi Berapa hari ini D10 D13 D19 D25 Jakarta - Surabaya

100: Sore

100: Dengan Jaya steel

uma: Ya

uma: Ada yang bisa dibantu?

100: Harga besi brp hari ini

100: Mutu 420B

uma: Kebutuhan ukuran berapa

uma: Berapa banyak

uma: Untuk daerah mana

100: D10 500 btg

D13 1000 btg

D19 750 btg

D25 600 btg

uma: Untuk daerah mana?

7100: Jakarta

uma: Nanti dihubungi petugas kami ya

100: Ditunggu pak


Harga besi Berapa hari ini D10 D13 D19 D25 Jakarta - Surabaya

wiremesh M6 M8

36: Pagi pak ..

ma: Selamat pagi

36: Pagi saya butuh wiremesh apa bisa bantu trimakasih

ma: Kebutuhan ukuran berapa

ma: Berapa banyak

36: M6 = 33 Lb

M8 =   8 Lb

ma: Untuk daerah mana

36: Kirim ke expedisi sindo jl. Kalianak 

 

wiremesh M6 M8


Pengelasan Tumpul Kampuh V Posisi Datar dengan Penahan Belakang (BUSUR LISTRIK)

 TEKNIK PENGELASAN

TEKNIK PENGELASAN BUSUR LISTRIK
Penanganan Mesin Las Busur Listrik Arus Bolak - Balik
 Pengelasan Posisi Datar

Pengelasan Tumpul Kampuh V Posisi Datar dengan Penahan Belakang

 1. Persiapan
Sebagai langkah persiapan, perhatikan hal-hal berikut :
(1) Siapkan dua logam dasar dengan kampuhnya
(2) Siapkan satu potong logam penahan bagian belakang.
(3) Berikan bevel 3o pada salah satu sisi penahan belakang.
(4) Hilangkan sisik-sisik bagian belakang logam dasar tersebut dengan kikir tangan.

Gambar 32 Persiapan awal pengelasan tumpul kampuh V posisi datar dengan penahan belakang


2. Pemberian las ikat

(1) Tempelkan kedua logam dasar diatas lempengan penahannya.
(2) Diantara dua logam itu, berikan celah 4 mm.
(3) Berikan las ikat pada bagian belakang logam dengan penahannya dengan hati-hati jangan sampai merusak pengelasan bagian depan.
(4) Pastikan jika ada perubahan posisi hanya ± 3o.
Plat penahan Las ikat Sisi depan Sisi belakang Las ikat

Gambar 33 Pemberian las ikat


3. Pembuatan busur

(1) Buatlah busur pada ujung lempeng penahan belakang.
(2) Pindahkan / gerakkan ke daerah pengelasan (celah utama) setelah busurnya stabil.

Gambar 34 Pembuatan busur pada ujung lempeng penahan belakang



4. Pengelasan pertama
Pengelasan pertama adalah tahap pengelasan untuk penembusan, perhatikan hal-hal berikut :
(1) Aturlah arus pengelasan ke 180 A.
(2) Pertahankan elektroda pada 90o terhadap kanan kiri logam dan 75 - 80o terhadap arah pengelasan.
(3) Jangan diayun.

Jaga agar busur tetap lurus diujung lobang terus menerus.

Gambar 35 Pengelasan pertama


5. Pengelasan kedua

Pengelasan kedua adalah merupakan tahap pengisian, dilakukan dengan metode mengayun, perhatikan hal-hal berikut :
(1) Rontokkan terak pada alur garis pertama dan bersihkan.
(2) Atur arus las hingga 170 A.
(3) Pertahankan elektroda pada sudut yang sama pada garis pertama. (4) Pindahkan elektrodanya dari tepi ke tepi seperti gambar disamping sambil mengikuti proses mengelas.

Gambar 36 Pengelasan kedua


6. Pengelasan ketiga dan lainnya
Seperti pada pengelasan kedua, pengelasan ketiga dan seterusnya juga merupakan tahap pengisian, perhatikan hal-hal berikut : (1) Atur arus pengelasan pada 165 A.
(2) Pindahkan elektroda dari tepi ke tepi seperti yang ditunjukkan disamping sambil mengelas.
(3) Laslah alur yang terakhir supaya alur itu lebih rendah 0.5 sampai 1mm dari permukaan logam dasar

Gambar 37 Pengelasan ketiga


7. Pengelasan terakhir

(1) Aturlah arus las ke posisi 150 - 160 A.
(2) Gerakkan elektroda dari tepi ke tepi sambil mengelas.
(3) Pertahankan lebar ayunan elektroda sampai bingkainya siap terbuka.
(4) Pertahankan lebarnya manik-manik sampai bingkainya membuka tambah 2 mm.
(5) Buatlah manik-manik penguat tidak lebih dari 1.5 mm.

Gambar 38 Pengelasan terakhir

Bukaan sudut + 2mm Bukaan sudut

Gambar 39 Proses pembukaan sudut


8. Pemeriksaan hasil las
(1) Bentuk rigi-rigi (lebarnya, kekuatannya, dan bentuk selangnya).
(2) Kondisi akhir ujung-ujung rigi.
(3) Takikan atau tumpangan.
(4) Deformasi/lengkungan.
(5) Pembersihan.


Gerakan elektroda yang benar Gerakan elektroda yang tak beraturan Gerakan elektroda yang cepat Gerakan elektroda yang pelan Takik Overlap Bentuk rigi las Yang akhir Yang pangkal Perubahan bentuk Pembersihan

Gambar 40 Pemeriksaan las

Pengelasan Posisi Datar (manik Lurus dengan ayunan)

 

Mengelas Manik manik Lurus posisi datar

1. Persiapan
Sebagai langkah awal dalam proses pengelasan ini, lakukan persiapan dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
(1) Tempatkan logam dasar tebal 9 mm pada meja kerja pada posisi yang stabil dan bersihkan permukaannya.
(2) Aturlah arus las dengan besaran antara 150 & 160 A.
(3) Atur posisi tubuh seperti pada gambar 11

2. Penyalaan busur
Nyalakan busur api sekitar 10-20 mm didepan titik awal dan kembali ke posisi semula seperti terlihat pada gambar 14.
Titik permulaaan Posisi penyalaan busur

Gambar 14 Penyalaan busur pada pengelasan posisi datar


3. Pengelasan manik-manik las

(1) Tempatkan elektroda 900 terhadap permukaan logam dasar dan 700- 800 terhadap arah pengelasan.
(2) Tahanlah dengan seksama lebar rigi-rigi jangan sampai melebihi dua kali diameter inti.
(3) Tetapkan bahwa panjang busur kira-kira 3- 4 mm.
(4) Arahkan elektrode las pada ujung lubang pengelasan.
Lebar rigi-rigi 7~8 mm Elektroda Kawat inti Pelindung flux Logam induk Lubang Penembusan las Pelindung gas Panjang busur = Diameter inti Terak Material pengelasan

Gambar 15 Posisi elektrode
Gambar 16 Posisi Batang Las


4. Mematikan busur las
Untuk mematikan busur las biarkan panjang busur menjadi pendek dan kemudian cepat matikan (lihat gambar 17).

5. Menyambung manik-manik las
Terbatasnya panjang elektrode terbungkus yang digunakan pada proses pengelasan ini mengakibatkan terputusnya manik-manik las.
Untuk menyambung kembali ikutilah petunjuk berikut :
(1) Bersihkan ujung lubangnya.
(2) Nyalakan busur sekitar 20 mm di depan kawah las dan putar balik kekawah lasnya.
(3) Buatlah endapan sehingga kawah lasnya terisi kemudian pindahkan elektrodanya ke depan.
Posisi alur busur Baik ( Terlalu tebal) Buruk Kondisi dari sambungan Buruk (Terlalu tipis)

Gambar 17 Posisi alur busur
Gambar 18 Penampang sambungan las

6. Pengisian kawah/lubang las
Buatlah endapan pada kawah las sehingga sama rata dengan bahan yang dilas.
(1) Biarkan panjangnya busur itu memendek pada ujung garis pengelasan dan buatlah lingkaran kecil 2 atau 3 kali.
(2) Nyalakan dan matikan busur secara berulang-ulang dan jangan lupa sebelum awal pengelasan lakukan pembersihan terlebih dahulu.

a. Pemutusan arus
b.


Gambar 19 Cara pemutusan arus


7. Pemeriksaan hasil las

Setelah proses pengelasan selesai, periksalah hal-hal berikut :
(1) Kondisi akhir ujung pengelasan.
(2) Hasil pengelasan (ketebalannya, kekuatannya, relung-relung lasnya).
(3) Takik / Tumpang tindih (overlapping)

Lebar rigi-rigi Penyelesaian akhir Bentuk gelombang rigi Mulai Percikan Takik Overlap / Menumpang

Gambar 20 Hasil pengelasan
Gambar 21 Takik & overlap


(4) Penampang hasil las (lihat gambar 18).
(5) Pembersihan.terak maupun percikan las

Membuat manik-manik posisi datar dengan ayunan

1. Persiapan
Sebagai langkah awal dalam proses pengelasan ini, lakukan persiapan dengan melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut :
(1) Letakkan logam dasar diatas meja kerja pada posisi yang tepat dan bersihkan permukaannya.
(2) Aturlah arus pengelasannya ke ukuran antara 160 & 170 A. Untuk pelat tebal 9 mm
(3) Perhatikan posisi tubuh seperti pada gambar 11

2. Penyalaan busur

Nyalakan busur api sekitar 10-20 mm didepan titik awal dan kembali ke posisi semula (lihat gambar 12).
3. Pengelasan manik-manik las
(1) Elektroda harus dipegang dengan kemiringan 90o terhadap kanan kirinya logam dan 75 - 85o terhadap arah lasnya.
(2) Gerakkan batang lasnya ke tepi kanan dan kirinya sambil berhenti sejenak dititik masing-masing tepi.
a. Lebar ayunan tidak boleh lebih dari 3 kali diameter inti .
b. Gerakkan tangkai las dengan jarak yang tetap dengan cara menggunakan seluruh tangan.
Gerakkan perlahan di sekitar titik balik Langkah Kurang dari tiga kali diameter inti Terak

Gambar 22 Ayunan las saat pembuatan manik – manik posisi datar


4. Menyambung manik-manik las

Untuk menyambung manik-manik las yang terputus karena elektrode habis, ikutilah petunjuk berikut :
(1) Bersihkan kawah las.
(2) Nyalakan busur ± 20 mm didepan kawah las dan putar kembali ke kawah
(3) Buatlah endapan sampai hampir memenuhi kawah lalu maju.
Titik penyalaan busur

Gambar 23 Menyambung manik–manik las


5. Mengisi kawah las

(1) Nyala dan matikan busur berulang-ulang melalui ujung elektrode.
(2) Buatlah endapan sehingga mengisi kawah sama rata dengan manik-manik.
Nyala dan matikan busur Logam isian

Gambar 24 Menyalakan dan mematikan busur


6. Pemeriksaan hasil las

Setelah proses pengelasan selesai, periksalah hal-hal berikut :
(1) Kondisi terakhir penyelesaian rigi-rigi.
(2) Bentuk rigi-rigi (lebar, kekuatan, dan bentuk relung-relungnya).
(3) Takikan atau tumpangan.
(4) Kondisi sambungan rigi-rigi.
(5) Pembersihan.terak dan percikan
Finishing end Lebar rigi Titik awal Bentuk rigi-rigi Percikan Takik Sambungan rigi Menumpang Titik akhir

Gambar 25 Poin pemeriksaan

Harga Besi Beton per kg berapa

93: Selamat sore, nama saya A-- dari PT. Korindo Konstruksi, saat ini saya berbicara dengan siapa ya? Saya ingin bertanya kira-kira harga besi beton per kg berapa

93: Harga untuk lokasi area jakarta selatan

ma: Saya Afandi Kusuma

ma: Kebutuhan ukuran berapa

ma: Berapa banyak

93: Untuk saat ini mau tahu harganya saja dulu, rata-rata harga besi beton per kg berapa ya?

 


harga besi beton per kg berapa

 

Inilah informasi untuk Anda mengenai Besi Polos 16 dan daftar harga Besi Polos 6 dan lainnya. Untuk anda yang sedang mencari info Besi Sloof Harga atau Besi Slup Jadi Harga dapatkan infonya di halaman lain di website ini. Silakan menambahkan info atau meninggalkan pesan melalui kolom komentar yang disediakan di halaman ini. Semoga berguna. Untuk info update harga silakan langsung menghubungi admin kami. Silakan langsung sebutkan daerah tempat gudang atau proyek serta ukuran dan jumlah masing-masing kebutuhan. Terima kasih. Semoga kami bisa membantu anda dengan sebaik mungkin. Senang bisa melayani pelanggan anda.

Tanya harga U40 per kilo Lombok - Surabaya

03: Selamat sore

03: Saya L-- dari bruder konstruksi nusantara

03: Mau tanya harga u40 brapa ya pak per kilo?

03: πŸ™

ma: Ukuran berapa

03: 13 mm pak

ma: Kira kira kebutuhan berapa banyak

ma: Untuk daerah mana

03: 44.487 kg

03: Lombok Pak

03: Baik trima kasih

 


Tanya harga u40 per kilo Lombok - Surabaya

Besi 6 8 10 + hermes Spandek (wiremesh)

35: *Saya ingin info mengenai Produk JayaSteel* 

Jenis :

Ukuran :

Jumlah :

...besi 6 8 10 hermes spandek

ma: Kebutuhan berapa banyak

ma: Untuk daerah mana

35: Bekasi boz

ma: Kira-kira kebutuhan berapa banyak

35: Tar saya cek lg ya boz

35: Ini toko nya dmna boz 




besi 6 8 10 + hermes (wiremesh) spandek 

Tambahan informasi untuk kita Pagar Besi Wiremesh dan hal-hal yang berhubungan dengan penjualan dan pemasangan  Pagar Kawat Wiremesh serta hal lain yang berhubungan dengan Arsitek Rumah Cimahi bagi yang sedang membutuhkan. Semoga berguna.

Pembayaran Cash Loco Gudang / Pabrik

ma: Ada harga baru

ma: Kebutuhan ukuran berapa

ma: Berapa banyak

ma: Untuk daerah mana

08: Boss beli besi bayar cash dirumah

08: Bisa gak

ma: Sudah lunas sebelum keluar gudang. 






Info lain mengenai baja ringan alderon atau yang berhubungan dengan mega baja ringan dan apa-apa yang anda butuhkan mengenai daftar harga terbaru Besi Polos 16 dan info Besi Polos 6 di daerah anda di Surabaya, Madiun, Malang, Atau Banyuwangi. Dapatkan update harga terbaru hari ini tahun ini.

Wiremesh M8 Tuban + info harga Besi 8mm 6mm SNI

200: Wiremesh m8 mas

ma: Kirim ke Tuban

ma: 20 lembar

200: Ke pandangan mas

200: Ukuran 150x150

200: Berapa harganya 



54: Selamat siang 

Mohon info hrg besi 8mm sni & 6mm sni ya pak/ibu πŸ™πŸ»

Utk pengiriman ke trosobo apa free ongkir?

ma: Kebutuhan berapa banyak

54: Besi 8mm sni 52lonjor

54: Monggo pak

 

 Wiremesh m8 Tuban + info harga besi 8mm 6mm sni

Konstruksi dan Detail Beton Bertulang

TEKNIK STRUKTUR BANGUNAN DENGAN KONSTRUKSI BETON
 Sifat dan Karakteristik Beton sebagai Material Bangunan
 Material Penyusun Beton Bertulang
Detail Beton bertulang

Konstruksi dan Detail Beton Bertulang

Sistem struktur dengan konstruksi beton masih menjadi pilihan utama dalam konstruksi bangunan.  Selain kemudahan fabrikasi dan kuat tekan yang tinggi, beberapa pertimbangan lainnya antara lain kemudahan memperoleh bahan penyusun dan kontinuitas proses suplai dalam proses produksi.

Sistem Konstruksi Beton Bertulang


Sistem konstruksi beton yang digunakan antara lain:

a) Slab dan Balok

Di antara semua sistem beton bertulang, yang paling sederhana adalah slab satu arah konvensional [Gambar (a)]. Salah satu keuntungan sistem ini adalah mudah dalam pelaksanaannya. Sistem dengan tinggi konstan ini khususnya cocok untuk bentang kecil. Untuk bentang besar, berat sendiri slab menjadi sangat besar sehingga akan lebih efisien kalau menggunakan slab ber-rusuk [Gambar (b)]

 

Gambar Sistem konstruksi untuk struktur beton

Sumber: Schodek, 1999

Sistem balok satu arah dengan slab satu arah melintang dapat digunakan untuk bentang yang relatif panjang (khususnya apabila balok tersebut post-tensioned) dan memikul bentang besar. Sistem demikian biasanya tinggi. Jarak balok biasanya ditentukan berclasarkan kebutuhan untuk menumpu slab melintang.


Gambar Sistem konstruksi untuk struktur beton (lanjutan)



Sumber: Schodek, 1999

b) Sistem Plat Ber-rusuk Satu Arah

Sistem pelat rusuk satu arah  adalah tulangan yang dibuat dengan menuangkan beton  ke perancah baja atau fiberglass yang berbentuk khusus. Sistem kolom dan pelat berusuk  memiliki kapasitas besar untuk memikul beban horizontal karena balok memanjang  dan melintang dicetak secara monolitik dengan lantai. Dengan demikian, aksi kerangka akan diperoleh di kedua arah.  

Balok silang dengan ketinggian yang berbeda  dapat dengan mudah ditempatkan sehingga dalam  sistem ini denah kolom dapat sangat bervariasi. Balok memanjang dapat  juga dapat dengan mudah dilemparkan dengan menyesuaikan jarak tempat sampah. Pelat bergaris ini dapat memiliki bentang  yang lebih besar dibandingkan dengan pelat padat, khususnya  jika pelat berusuk memiliki tiang tegangan. Dukungan vertikal  dari sistem ini dapat berupa kolom atau dinding bata penahan beban.

 
 

c) Konstruksi Plat Datar

Plat datar adalah sistem slab beton bertulang dua arah bertinggi konstan [lihat Gambar (d)]. Konstruksi ini cocok digunakan untuk beban atap dan lantai ringan dan bentang relatif pendek. Sistem demikian banyak digunakan pada konstruksi rumah. Meskipun sistem demikian lebih cocok digunakan dengan pola kolom teratur, kita dapat saja membuat pola kolom tidak teratur. Plat datar sering digunakan apabila ortogonalitas kaku yang disyaratkan pada banyak sistem lain terhadap pola tumpuan vertikal tidak dikehendaki atau tidak mungkin dilaksanakan. Tetapi, pada konstruksi ini bentangnya tidak dapat sebesar sistem yang menggunakan balok maupun yang menggunakan rusuk.

Dengan konstruksi plat datar ini kita dapat memperoleh jarak plafon ke lantai yang lebih kecil daripada sistem-sistem lainnya. Pada sistem plat datar ini diperlukan tulangan baja lebih banyak sebagai akibat tipisnya plat yang digunakan. Faktor desain yang menentukan pada plat datar umumnya geser pons pada plat di pertemuannya dengan kolom. Dengan demikian, untuk mengatasinya di daerah ini diperlukan tulangan khusus. Selain itu, kolom yang terletak di tepi plat biasanya diletakkan agak ke dalam untuk menjamin bahwa luas kritis pons tetap besar.

Kestabilan lateral untuk keseluruhan susunan plat dan kolom juga perlu diperhatikan. Karena plat dan kolom dicor secara monolit, titik hubungnya relatif kaku sehingga memberi kontribusi pada tahanan lateral struktur, dan hal ini sudah cukup untuk gedung bertingkat rendah. Akan tetapi, karena tipisnya elemen plat, tahanan ini sangat terbatas. Untuk struktur bertingkat tinggi, kestabilan terhadap beban lateral baru terpenuhi dengan menggunakan dinding geser atau elemen inti yang dicor di tempat pada gedung, yang biasanya terdapat di sekitar elevator (lift) atau di sekitar tangga.

Pada sistem ini, keuntungan lain yang dapat diperoleh adalah mudahnya membuat perancah. Perilaku planar pada permukaan bawah juga memudahkan desain dan penempatan komponen gedung lainnya. Sistem ini sering digunakan pada gedung apartemen dan asrama yang umumnya membutuhkan ruang fungsi yang tidak besar, tetapi banyak.

d) Konstruksi Slab Datar

Slab datar adalah sistem beton bertulang dua arah yang hampir sama dengan plat datar, hanya berbeda dalam hal luas kontak antar plat dan kolom yang diperbesar dengan menggunakan drop panels dan atau kepala kolom (column capitals) [lihat Gambar (e)]. Drop panels atau kepala kolom itu berfungsi mengurangi kemungkinan terjadinya keruntuhan geser pons. Sistem demikian khususnya cocok untuk kondisi pembebanan relatif berat (misalnya untuk gudang), dan cocok untuk bentang yang lebih besar daripada bentang plat datar. Drop panels dan kepala kolom juga memberikan kontribusi dalam memperbesar tahanan sistem slab-dan-kolom terhadap beban lateral.

e) Konstruksi Slab dan Balok Dua Arah

Sistem slab dan balok dua arah terdiri atas plat dengan balok beton bertulang yang dicor di tempat secara monolit, dan balok tersebut terdapat di sekeliling plat [lihat Gambar (f)]. Sistem ini baik untuk kondisi beban besar dan bentang menengah. Beban terpusat yang besar juga dapat dipikul apabila bekerja langsung di atas balok. Pada sistem ini selalu digunakan kolom sebagai penumpu vertikal. Karena balok dan kolom dicor secara monolit, sistem ini secara alami akan membentuk rangka pada dua arah. Hal ini sangat meningkatkan kapasitas pikul beban lateral sehingga sistem demikian banyak digunakan pada gedung bertingkat banyak.

f) Slab Wafel

Slab wafel (waffle slab) adalah sistem beton bertulang dua arah bertinggi konstan yang mempunyai rusuk dalam dua arah [lihat Gambar (g)]. Rusuk ini dibentuk oleh cetakan khusus yang terbuat dari baja atau fibreglass. Rongga yang dibentuk oleh rusuk sangat mengurangi berat sendiri struktur. Untuk situasi bentang besar, slab wafel lebih menguntungkan dibandingkan dengan plat datar. Slab wafel juga dapat diberi pasca tarik untuk digunakan pada bentang besar, Di sekitar kolom, slab biasanva dibiarkan tetap tebal. Daerah yang kaku ini berfungsi sama dengan drop panels atau kepala kolom pada slab datar. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya keruntuhan geser pons akan berkurang, dan kapasitas tahanan momen sistem ini akan meningkat termasuk pula kapasitas pikul bebannya.

g) Bentuk Lengkung

Setiap bentuk lengkung tunggal maupun ganda (silinder, kubah, dan sebagainya) selalu dapat dibuat dari beton bertulang. Pada umumnya di dalam cangkang beton terdapat jaring tulangan baja. Biasanya pada lokasi yang mengalami gaya internal besar, tulangan itu semakin banyak. Pemberian pasca tarik pada umumnya dilakukan untuk elemen-elemen khusus (misalnya cincin tarik pada kubah).

h) Elemen Beton Pracetak

Elemen beton pracetak dibuat tidak di lokasi bangunan, dan harus diangkut ke lokasi apabila akan digunakan. Elemen ini umumnya berupa elemen yang membentang satu arah, yang pada umumnya diberi pratarik.

Banyak bentuk penampang melintang yang dapat dibuat untuk berbagai kondisi bentang dan beban. Elemen ini umumnya digunakan untuk beban terpusat (pada lantai maupun atap) yang terdistribusi merata dan tidak untuk beban terpusat atau beban terdistribusi yang sangat besar. Elemen struktur pracetak ini hampir selalu ditumpu sederhana.

Hubungan yang mampu menahan gaya momen harus dibuat dengan konstruksi khusus, tetapi hal ini umumnya sulit dilakukan. Dengan demikian, penggunaan elemen ini sebagai kantilever besar juga sulit. Penggunaan elemen pracetak akan sangat terasa untuk bagian yang berulang.

i) Papan Beton Pracetak

Papan beton pracetak berbentang pendek mempunyai bentang sedikit lebih besar daripada papan kayu. Biasanya di atas papan beton pracetak ini ada permukaan beton yang dicor di tempat (wearing surface). Permukaan ini memang biasanya digunakan di atas balok beton bertulang pracetak atau joist web terbuka. Papan beton bentang besar dapat mempunyai bentang antara 16 dan 34 ft (5 dan I I m), bergantung pada lebar dan tinggi eksak elemen. Papan beton bentang besar ini umumnya diberi prategang dan juga diberi rongga untuk mengurangi berat dirinya.

Beton yang dicor di tempat di atas papan pracetak mempunyai fungsi sebagai penghubung geser antara elemen-elemen yang dihubungkannya sehingga struktur ini dapat berperilaku sebagai plat satu arah [lihat Gambar (h)]. Papan beton umumnya cocok digunakan untuk memikul beban atap atau beban lantai yang tidak besar. Papan beton pracetak selalu ditumpu sederhana dan sering kali digunakan bersama dinding pemikul beban sebagai sistern penumpu vertikalnya (dinding ini harus terbuat dari bata atau beton, bukan kayu). Papan tersebut juga dapat digunakan bersama balok beton bertulang maupun balok baja.

j) Bentuk T Rangkap dan Kanal

Elemen prategang, pracetak, satu arah, yang ber-rusuk dapat digunakan untuk bentang panjang [Gambar (i)]. Jenis elemen ini biasa digunakan untuk beban mati dan hidup pada atap. Di atas elemen ini biasanya digunakan beton yang dicor di tempat sebagai lantai guna, juga sebagai penghubung dengan elemen T lain di dekatnya.

k) Bentuk T Tunggal


Elemen prategang, pracetak, dan besar yang umumnya mempunyai bentang relatif panjang. Elemen ini sangat jarang digunakan untuk situasi bentang kecil karena sulitnya melaksanakan perakitannya. Elemen ini selalu ditumpu sederhana. Elemen ini dapat digunakan untuk beban yang relatif besar. Sebagai contoh, elemen ini dapat digunakan untuk garasi dan gedung lain yang mempunyai bentang besar dan beban yang lebih besar dari beban biasa (Gambar (j)],

l) Sistem Gedung Khusus

Kita dapat menyatukan sejumlah sistem yang secara lengkap membentuk suatu gedung [Gambar (l)]. Sistem-sistem yang dirancang secara khusus untuk konstruksi rumah ini umum dilakukan. Pendekatan yang digunakan biasanya dapat dimasukkan ke dalam dua kelompok:
(1) sistem-sistem yang mempunyai elemen planar atau linear (yang tidak diproduksi di lokasi), seperti dinding atau sistem lain yang membentang secara horisontal yang kemudian digabungkan di lokasi (biasanya dengan sistem pascatarik) sehingga membentuk suatu volume; dan
(2) sistemsistem yang sudah membentuk volume di luar lokasi yang kemudian diangkut ke lokasi.

Ukuran Elemen

Gambar  mengilustrasikan batas-batas bentang dan tinggi yang umum untuk beberapa sistem beton bertulang. Kolom beton bertulang umumnya mempunyai perbandingan tebal-tinggi (t / h) bervariasi dari 1 : 15 untuk kolom pendek dan dibebani ringan hingga sekitar I : 6 untuk kolom yang dibebani besar pada gedung bertingkat banyak. Dinding betonbertulang pemikul beban mempunyai perbandingan t / h bervariasi antara 1 : 22 dan I : 10.

 

Gambar Perkiraan batas bentang untuk berbagai sistem beton  

...

Selengkapnya : Teknik Struktur Bangunan


.. 

Sistem struktur dengan konstruksi beton masih menjadi pilihan utama dalam konstruksi bangunan.  Selain kemudahan fabrikasi dan kuat tekan yang tinggi, beberapa pertimbangan lainnya antara lain kemudahan memperoleh bahan penyusun dan kontinuitas proses suplai dalam proses produksi.

Sistem konstruksi beton yang digunakan antara lain:
a) Slab dan Balok
Di antara semua sistem beton bertulang, yang paling sederhana adalah slab satu arah konvensional. Salah satu keuntungan sistem ini adalah mudah dalam pelaksanaannya. Sistem dengan tinggi konstan ini khususnya cocok untuk bentang kecil. [ SELENGKAPNYA ... ]

 

..

Struktur Kolom Beton Bertulang

 Material Penyusun Beton Bertulang
Konstruksi dan Detail Beton Bertulang
Aplikasi Konstruksi Beton Bertulang

 

 

Struktur Kolom Beton Bertulang

Tipikal kolom beton bertulang seperti pada Gambar. Tulanganpada kolom akan terdistribusi bersama dengan bagian tepi keliling penampang kolom dan menerus sepanjang tinggi kolom tersebut. Tulangan transversal kolom (begel) dapat berbentuk, empat persegi, ties atau spiral. Dinding yang tinggi dan elemen ’core’ pada bangunan akan mempunyai perilaku yang sama dengan kolom, sehingga prosedur desain dapat mengikuti aplikasi dari kolom.


Kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial terfaktor yang bekerja pada semua lantai atau atap dan momen maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada satu bentang terdekat dari lantai atau atap yang ditinjau. Kombinasi pembebanan yangmenghasilkan rasio maksimum dari momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan.


Gambar Tipikal kolom beton bertulang
Sumber: Dipohusodo, 1999

Pada konstruksi rangka atau struktur menerus, pengaruh dari adanya beban yang tak seimbang pada lantai atau atap terhadap kolom luar ataupun dalam harus diperhitungkan. Demikian pula pengaruh dari beban eksentris karena sebab lainnya juga harus diperhitungkan.

Dalam menghitung momen akibat beban gravitasi yang bekerja pada kolom, ujung-ujung terjauh kolom dapat dianggap terjepit, selama ujungujung tersebut menyatu (monolit) dengan komponen struktur lainnya. Momen-momen yang bekerja pada setiap level lantai atau atap harus didistribusikan pada kolom di atas dan di bawah lantai tersebut berdasarkan kekakuan relatif kolom dengan juga memperhatikan kondisi kekangan pada ujung kolom.

Selanjutnya analisis kolom dan perencanaan kolom beton di sini ditekankan pada jenis kolom beton sederhana. Jenis kolom yang dimaksud adalah kolom pendek dengan eksentrisitas kecil.

Kekuatan Kolom eksentrisitas kecil

Hampir tidak pernah dijumpai kolom dengan beban aksial tekan secara konsentris. Meskipun demikian pembahasan kolom dengan eksentrisitas kecil sangat penting sebagai dasar pengertian perilaku kolom pada waktu menahan beban serta timbulnya momen pada kolom.

Jika beban tekan P berimpit dengan sumbu memanjang kolom berarti tanpa eksentrisitas, secara teoritis menghasilkan tegangan merata pada permukaan penampang lintangnya. Sedangkan jika gaya tekan bekerja pada satu tempat berjarak e terhadap sumbu memanjang, kolom akan melentur seiring dengan timbulnya momen M=P(e). Jarak e disebut eksentrisitas gaya terhadap sumbu kolom.

Kekuatan beban aksial pada kondisi pembebanan tanpa eksentrisitas adalah:
PO = 0,85 fc’(Ag-Ast) + fyAst                 (7.8)
dimana:
Ag = luas kotor penampang lintang kolom (mm2)
Ast = luas total penampang penulangan memanjang (mm2)
PO = kuat beban aksial tanpa eksentrisitas
Pn = kuat beban aksial dengan eksentrisitas tertentu
Pu = beban aksial terfaktor dengan eksentrisitas
rasio penulangan adalah:


g
st
g A
ρ = A

Hubungan dasar antara beban dan kekuatan: Pu ΓΈ Pn ,
Ketentuan dalam SNI 03-2847-2002 selanjutnya:
− reduksi kekuatan untuk kolom dengan penulangan sengkang adalah 20%
− reduksi kekuatan untuk kolom dengan penulangan spiral adalah 15% Berdasarkan reduksi kekuatan tersebut maka rumus kuat beban aksial maksimum adalah:
Untuk kolom dengan penulangan spiral
ΓΈ Pn(maks) = 0,85ΓΈ {0,85 fc’ (Ag-Ast) + fyAst}
Untuk kolom dengan penulangan sengkang
ΓΈ Pn(maks) = 0,80ΓΈ {0,85 fc’ (Ag-Ast) + fyAst}
Faktor reduksi ditentukan:
ΓΈ = 0.70 untuk penulangan spiral, dan
ΓΈ = 0,65 untuk penulangan dengan sengkang.

Persyaratan detail penulangan kolom

Jumlah luas penampang tulangan pokok memanjang dibatasi dengan rasio penulangan ρg antara 0,01 dan 0,08. Secara umum luas penulangan yang digunakan antara 1,5% sampai 3 % dari luas penampang, serta terkadang dapat mencapai 4% untuk struktur berlantai banyak, namun disarankan tidak melebihi 4%. Sesuai SNI 03-2847-2002, penulangan pokok pada kolom dengan pengikat spiral minimal 6 batang, sedangkan untuk sengkang segiempat adalah 4 batang, dan segitiga minimal adalah 3 batang. Beberapa susunan penulangan seperti pada gambar.

Gambar Detail susunan penulangan tipikal
Sumber: Dipohusodo, 1999

Jarak bersih antar batang tulangan pokok tidak boleh kurang dari 1,5 db atau 40 mm. Syarat-syarat lain diantaranya:
− tebal minimum penutup beton ditetapkan tidak boleh kurang dari 40 mm
− batang tulangan pokok harus dilingkupi sengkang dengan kait pengikat lateral paling sedikit dengan batang D10 untuk tulangan pokok D32 atau lebih kecil
− untuk tulangan pokok yang lebih besar menggunakan yang tidak kurang dari D12, tetapi tidak lebih besar dari D16.
− jarak spasi tulangan sengkang tidak lebih dari 16 kali diameter tulangan pokok, atau 48 kali diameter tulangan sengkang, dan dimensi lateral terkecil (lebar) kolom
− kait pengikat harus diatur sehingga sudut-sudutnya tidak dibengkokan dengan sudut lebih besar dari 135ΒΊ, seperti pada gambar.

− Rasio penulangan untuk pengikat spiral tidak boleh kurang dari:


y c c g s imum f f A A ' 0,45 1 ) (min 􀂸 􀂸􀂹 􀂷 􀂨 􀂨􀂩 􀂧
ρ = − (7.9)
dimana:
ρs = volume tulangan spiral satu putaran
volume inti kolom setinggi s
s = jarak spasi tulangan spiral
Ag = luas kotor penampang lintang kolom (mm2)
Ac = luas penampang lintang inti kolom (tepi luar ke tepi luar spiral)
f'c = kuat tekan beton
f'y = tegangan luluh baja spiral, tidak lebih dari 400 Mpa

Gambar Spasi antara tulangan-tulangan longitudinal kolom
Sumber: Dipohusodo, 1999

Analisis dan perancangan kolom


Secara ringkas analisis dan perencanaan mengikuti langkahlangkah: Untuk analisis
1) Pemeriksaan apakah ρg masih dalam batas yang memenuhi persyaratan
0,01 ρg 0,08
2) Pemeriksaan jumlah tulangan pokok memanjang untuk memperoleh jarak bersih antara batang tulangan (dapat menggunakan tabel A-40 dalam Dipohusodo, 1994)
3) Menghitung kuat beban aksial maksimum
4) Pemeriksaan tulangan pengikat (lateral). Untuk sengkang, periksa dimensi tulangan, jarak spasi, dan susunan penempang. Untuk pengikat spiral, periksa dimensi batang tulangan, rasio penulangan, dan jarak spasi bersih antara tulangan.

Untuk analisis

1) Menentukan kekuatan bahan-bahan yang dipakai. Menentukan rasio ρg penulangan yang direncanakan (bila diinginkan)
2) Menentukan beban rencana terfaktor Pu
3) Menentukan luas kotor penampang kolom yang diperlukan Ag
4) Memilih bentuk dan ukuran penampang kolom, gunakan bilangan bulat
5) Menghitung beban yang dapat didukung oleh beton dan tulangan pokok memanjang. Tentukan luas penampang batang tulangan memanjang yang diperlukan, kemudian pilih batang tulangan yang akan dipakai.
6) Merancang tulangan pengikat, dapat berupa tulangan sengkang atauspiral.
7) Buat sketsa rancangannya.

 

 Selengkapnya: TEKNIK STRUKTUR BANGUNAN

Perencanaan plat terlentur satu arah : Konstruksi Beton bertulang

Material Penyusun Beton Bertulang
Konstruksi dan Detail Beton Bertulang
Aplikasi Konstruksi Beton Bertulang

Konstruksi Balok dan plat beton bertulang

Perencanaan plat terlentur satu arah

Seperti pada perencanaan balok terlentur, perencanaan plat terlentur juga memerlukan estimasi-estimasi untuk memperkirakan awal tebal plat terlentur untuk menentukan dimensi-dimensi d dan h. Perkiraan dimensi tersebut dapat juga menggunakan tabel 000. Daftar tersebut hanya diperuntukan untuk balok dan plat beton bertulangan satu arah, nonprategang, berat beton normal (Wc=23 kN/m3) dan baja tulangan BJTD mutu 40. Apabila digunakan mutu baja yang lain maka nilai pada daftar dikalikan dengan faktor:


􀂸 􀂸􀂹 􀂷 􀂨 􀂨􀂩 􀂧 + 700 0,4 y f


Untuk struktur beton ringan, harus dikalikan dengan faktor:

(1,65 – 0,005 Wc)

akan tetapi nilainya tidak boleh kurang 1,09, dan satuan Wc dalam kgf/ m3.

Secara ringkas langkah-langkah perencanaan plat terlentur satu arah, dengan urutan sebagai berikut:
1) Hitung h minimum sesuai tabel, dengan pembulatan dalam centimeter.
2) Hitung beban mati berat sendiri plat, dan selanjutnya beban rencana total Wu
3) Hitung momen rencana Mu
4) Perkirakan dan hitung tinggi efektif d, dapat menggunakan tulangan baja D19 dan penutup beton 20 mm, dengan hubungan:

d = h – 29,5 mm 

5) Hitung k perlu


bd 2 M k u Ο† =
6) Cari nilai k (tabel A-8 sampai A-37 dalam Dipohusodo, 1994), dan tidak melampaui ρmaks
7) Hitung As yang dibutuhkan. As perlu = ρbd
8) Tentukan tulangan pokok (tabel A-3 dalam Dipohusodo, 1994).
Periksa jarak maksimum dari pusat ke pusat: 3h atau 500 mm.
Dan periksa ulang anggapan awal pada langkah 4.

9) Periksa tulangan susut dan suhu, sebagai berikut:
As = 0,0020 bh, untuk baja mutu 30
As = 0,0018 bh, untuk baja mutu 40

􀂸 􀂸 􀂹 􀂷 􀂨 􀂨 􀂩 􀂧 = y s f A bh 400


untuk mutu baja lebih tinggi dari 40.
dan tidak boleh kurang dari As = 0,0014 bh
10) Jumlah luas penampang tulangan baja pokok tidak boleh kurang dari jumlah luas penulangan susut dan suhu.
11) Buat sketsa rancangan.

 

  Selengkapnya: TEKNIK STRUKTUR BANGUNAN

Aplikasi Konstruksi Beton bertulang

Sifat dan Karakteristik Beton sebagai Material Bangunan 
  Material Penyusun Beton Bertulang 
  Konstruksi dan Detail Beton Bertulang
 

 Aplikasi Konstruksi Beton bertulang

  Desain Struktur Beton Bertulang

a) Tujuan Desain

Pada struktur beton bertulang, tujuan desain harus mengandung:
− Mengatur sistem struktur yang mungkin dikerjakan dan ekonomis. Hal ini berkaitan dengan pemilihan kesesuaian model struktur, dan penataan lokasi dan pengaturan elemen-elemen struktur seperti kolom dan balok.
− Menentukan dimensi-dimensi struktural, ukuran penampang komponen struktur, termasuk tebal selimut beton.
− Menentukan persyaratan kekuatan tulangan baik longitudinal maupun transversal
− Detail tulangan beton seperti panjang tulangan, kait, dan pembekokannya
− Memenuhi persyaratan kemampulayanan seperti defleksi dan retakan

b) Kriteria Desain

Untuk mencapai tujuan desain, terdapat empat kriteria umum yang harus dipenuhi:
− Keselamatan, kekuatan, dan stabilitas; Sistem struktur dan elemen struktur harus didesain dengan batas-batas angka keamanan agar tidak terjadi kegagalan struktur.
− Estetis; meliputi pertimbangan bentuk, proporsi geometris, simetri tekstur permukaan, dan artikulasi. Hal ini sangat penting pada struktur-struktur dengan bentuk-bentuk khusus seperti monumen dan jembatan. Ahli struktur harus berkoordinasi dengan perencana, arsitek dan desain profesional lain.
− Persyaratan fungsional. Suatu struktur harus selalu dirancang untuk melayani fungsi-fungsi tertentu. Kemudahan konstruksi adalah pertimbangan utama dari persyaratan fungsional. Suatu disain struktural harus praktis dan ekonomis untuk dibangun.
− Ekonomis. Struktur harus dirancang dan dibangun sesuai target anggaran proyek. Pada struktur beton bertulang, disain yang ekonomis tidak boleh dicapai melalui minimalisasi jumlah beton dan tulangan. Bagian terbesar dari biaya konstruksi adalah biaya tenaga kerja, formwork dan kesalahan kerja. Oleh karena itu, desain ukuran elemen dan penyederhanaan penempatan kekuatan akan berakibat pada kemudahan dan kecepatan, yang selanjutnya mengakibatkan desain menjadi lebih ekonomis dan menggunakan material yang minimum.

c) Proses Desain

Desain beton bertulang sering menggunakan proses trial-and-error dan melibatkan pertimbangan keputusan perancangnya. Setiap proyek struktur adalah unik. Proses disain untuk struktur beton bertulang mengikuti langkah-langkah berikut:
− Konfigurasi sistem struktur
− Penentuan data-data desain: desain pembebanan, kriteria desain, dan spesifikasi materialnya.
− Membuat estimasi awal usulan elemen, misalnya berdasarkan pada aturan-aturan kontrol defleksi dengan penambahan persyaratan estΓ©tika dan fungsional.
− Menghitung properti penampang elemen, analisis struktural untuk gaya-gaya internal: momen, gaya aksial, gaya geser, dan puntir. Juga, peninjauan kembali perhitungan defleksi.
− Menghitung persyaratan kekuatan longitudinal yang didasarkan pada kebutuhan momen dan gaya axial. Menghitung persyaratan kekeuatan transveral berdasarkan tuntutan geser dan momen puntir.
− Jika elemen tidak memenuhi kriteria desain, modifikasi desain dan ulangi langkah 1-3
− Lengkapi dengan evaluasi yang lebih detail desain elemen tersebut dengan menambahkan beban-beban khusus dan kombinasikombinasi, dan kekuatan serta persyaratan kemampulayanan berdasarkan persyaratan peraturan, stΓ‘ndar dan spesifikasi
− Detail penulangan, pengembangan gambar-gambar desain, catatancatatan dan spesifikasi.

7.4.2. Persyaratan kekuatan beton bertulang untuk perancangan struktur


7.4.3. Konstruksi Balok dan plat beton bertulang


7.4.4. Perencanaan balok dan plat beton bertulang

A. Perencanaan balok terlentur bertulangan tarik saja

Dalam proses perencanaan balok terlentur untuk fy dan f ’c tertentu, maka harus ditetapkan lebih lanjut dimensi lebar balok, tinggi balok dan luas penampang tulangan. Kombinasi tiga besaran perencanaan ini memunculkan banyak sekali kemungkinan kebutuhan kuat momen dari balok. Selanjutnya kombinasi ini menghasilkan nilai k yang disebut sebagai koefisien tahan dalam satuan Mpa, seperti pada tabel A-8 sampai A-37 dalam buku struktur beton bertulang (Dipohusodo, 1994).

Dengan menggunakan nilai k ini, maka rumus umum MR menjadi:

MR = Ο† bd2k                                             (7.5)

Dengan rumusan ini maka pendekatan analisis menjadi lebih singkat. perencanaan balok persegi terlentur bertulangan tarik saja secara praktis dapat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

Dalam kegiatan perencanaan diperlukan juga tahapan untuk memperkirakan dimensi penampang karena belum diketahui. Untuk perkiraan kasar umumnya digunakan hubungan empiris rasio antara lebar dan tinggi balok beton persegi yang dapat diterima dan cukup ekonomis adalah:

1,0 d/b 3,0

berdasarkan rentang nilai tersebut, rasio d/b umumnya dapat memenuhi syarat terletak pada nilai 1,5 – 2,2.

Perkiraan dimensi balok dapat juga dutentukan berdasarkan menggunakan persyaratan tebal minimum balok dan plat satu arah menurut SNI 03-2847-2002, seperti pada tabel.

Tabel Tinggi balok minimum
Sumber: Sagel dkk, 1994


Tebal minimum, h Dua tumpuan sederhana Satu ujung menerus Kedua ujung menerus Komponen struktur Kantilever
Komponen yang tidak menahan atau tidak disatukan dengan partisi atau konstruksi lain yang mungkin akan rusak oleh lendutan yang besar

Plat masif satu arah 􀆐 /16 􀆐 /18.5 􀆐 /21 􀆐 /8 Balok atau plat rusuk satu arah 􀆐 /20 􀆐 /24 􀆐 /28 􀆐 /10
Catatan:
Panjang bentang dalam mm.
Nilai yang diberikan harus digunakan langsung untuk komponen struktur dengan beton normal (wc = 2 400 kg/m3 ) dan tulangan BJTD 40. Untuk kondisi lain, nilai di atas harus dimodifikasikan sebagai berikut: (a) Untuk struktur beton ringan dengan berat jenis di antara 1 500 kg/m3 sampai 2 000 kg/m3 , nilai tadi harus dikalikan dengan (1,65 - 0,000 3 wc) tetapi tidak kurang dari 1,09, dimana wc adalah berat jenis dalam kg/m 3 . (b) Untuk fy selain 400 MPa, nilainya harus dikalikan dengan (0,4 + fy/700).


Jika penampang diketahui, dan akan menghitung As
1) Ubah beban atau momen yang bekerja menjadi beban atau momen rencana (Wu dan Mu), termasuk berat sendiri.
2) Berdasarkan h yang diketahui, perkirakan d dengan menggunakan hubungan d = h – 80 mm, kemudian hitung k yang diperlukan dengan rumus:


bd 2 M k u Ο† =
3) Cari rasio penulangan (tabel A-8 sampai A-37 dalam Dipohusodo, 1994)
4) Hitung As yang diperlukan, dimana As perlu = ρbd
5) Tentukan batang tulangan yang akan dipasang, dengan memperhitungkan apakah tulangan dapat dipasang satu lapis pada balok. Periksa ulang tinggi efektif aktual balok dan bandingkan dengan tinggi efektif hasil perhitungan: jika lebih tinggi berarti hasil rancangan dalam keadaan aman, dan sebaliknya jika kurang dari tinggi berarti tidak aman dan harus dilakukan revisi perhitungan.

6) Buat sketsa rancangan

Merencana dimensi penampang dan As

1) Ubah beban dan momen menjadi beban dan momen rencana (Wu dan Mu), termasuk memperkirakan berat sendiri balok. Tinggi dan lebar balok harus memenuhi syarat dan berupa bilangan bulat. Jangan lupa menggunakan faktor beban dalam memperhitungkan beban mati tambahan.
2) Pilih rasio penulangan (tabel A-4 dalam Dipohusodo, 1994).
3) Cari nilai k (tabel A-8 sampai A-37 dalam Dipohusodo, 1994).
4) Perkirakan b dan hitung d yang diperlukan.



bk M d u perlu Ο† =


jika d/b memenuhi syarat (1,5 – 2,2), dimensi dapat dipakai.
5) Perhitungkan h, kemudian hitung ulang berat balok dan bandingkan berat balok tersebut dengan berat balok yang sudah dimasukan dalam perhitungan.
6) Lakukan revisi hitungan dengan momen rencana Mu, dengan menggunakan hasil hitungan berat sendiri balok yang terakhir.
7) Dengan nilai b, k, dan yang baru, hitung dperlu 
8) Hitung As yang diperlukan, dimana As perlu = ρbd
9) Pilih batang tulangan.
10) Tentukan h, bila perlu dengan pembulatan ke atas (dalam cm). Cek tinggi efektif aktual dibanding dengan rencana, jika lebih besar maka balok dalam keadaan aman.
11) Buat sketsa rancangan

B. Perencanaan plat terlentur satu arah

C. Perencanaan balok T : elemen struktur beton


D. Plat dengan rusuk satu arah

Sistem plat lantai dengan rusuk satu arah seperti pada gambar, terdiri dari rangkaian balok-T dengan jarak yang rapat. Rusuk-rusuk tidak boleh kurang dari 4” pada arah lebarnya dan ketebalan seharusnya tidak lebih dari 3,5 kali lebar minimum rusuknya. Tulangan lentur seperti pada penampang balok-T. Rusuk beton biasanya memiliki kapasitas geser yang cukup besar, sehingga tulangan geser tidak diperlukan.

Gambar Struktur plat dengan rusuk satu arah

Sumber: Chen & M. Lui, 2005

Tulangan suhu Rusuk Tinggi Rusuk Total Permukaan Plat lebar antara tinggi antara

E. Plat lantai dua arah

Asumsi desain aksi satu arah tidak dapat diaplikasikan pada banyak kasus, khususnya pada panel lantai yang memiliki aspek rasio panjang dan lebar yang kurang dari 2. Pada plat yang bebannya didistribusikan ke kedua arah sisinya disebut sebagai plat dua arah, seperti pada gambar.

Gambar Struktur plat lantai dua arah dan prinsip penyaluran beban
Sumber: Chen & M. Lui, 2005

Cara penyaluran beban dari plat ke tumpuan berbeda antara plat dua arah dengan plat satu arah. Apabila syarat-syarat tumpuan sepanjang keempat tepinya sama yaitu tertumpu bebas atau terjepit maka pola penyaluran beban untuk plat persegi dinyatakan dengan bentuk ‘amplop’, dengan menggambarkan garis-garis pada setiap sudutnya dengan sudut 45°.

Plat dua arah dengan balok

Plat dua arah dengan balok terdiri dari sebuah panel plat yang dibatasi oleh balok-balok yang tertumpu pada kolom. Aspek rasio panjang dan lebar panel kurang dari 2, maka proporsi yang sesuai dari beban lantai akan di transfer pada arah panjangnya. Kekakuan terjadi pada kesatuan balok-balok tersebut (Gambar).

Rangka ekivalen dalam
Rangka ekivalen tepi Dua arah Penyaluran beban


Gambar Struktur plat dua arah dengan balok
Sumber: Chen & M. Lui, 2005

F. Plat rata

Sistem lantai tanpa menggunakan balok-balok disebut sebagai plat rata (flat), seperti pada gambar. Sistem ini ekonomis dan fungsional karena dengan dihilangkannya balok maka tinggi bersih antar lantai dapat lebih maksimal. Tebal minimal plat rata ini seperti pada tabel.

Gambar Struktur plat rata (flat)
Sumber: Chen & M. Lui, 2005

Tabel Tebal minimum plat tanpa balok
Sumber: Sagel dkk, 1994

Tanpa penebalan b Dengan penebalan b
Panel luar Panel luar Tegangan leleh fy a MPa Tanpa balok pinggir Dengan balok pinggirc Panel dalam Tanpa balok pinggir Dengan balok pinggirc Panel dalam
300 􀆐n / 33 􀆐n / 36 􀆐n / 36 􀆐n / 36 􀆐n / 40 􀆐n / 40
400 􀆐n / 30 􀆐n / 33 􀆐n / 33 􀆐n / 33 􀆐n / 36 􀆐n / 36
500 􀆐n / 28 􀆐n / 31 􀆐n / 31 􀆐n / 33 􀆐n / 34 􀆐n / 34
Catatan:
a. Untuk tulangan dengan tegangan leleh di antara 300 MPa dan 400 MPa atau di antara 400 MPa dan 500 MPa, gunakan interpolasi linear.
b. Penebalan panel didefinisikan dalam 15.3(7(1)) dan 15.3(7(2)).
c. Pelat dengan balok di antara kolom kolomnya di sepanjang tepi luar. Nilai Ξ± untuk balok tepi tidak boleh kurang dari 0,8.

G. Plat dengan panel drop

Kemampuan plat rata dapat meningkat dengan penambahan drop panel. Drop panel adalah penambahan ketebalan plat pada daerah momen negatif, dan akan meningkatkan perpindahan gaya pada hubungan antar plat dan kolom pendukungnya. Tebal minimum plat ini seperti pada tabel dan tidak boleh kurang dari 4”. Selain itu, kombinasi plat dengan panel drop dan kepala kolom akan semakin meningkatkan kekuatan strukturnya. (gambar)

Gambar Struktur plat-rata dengan panel drop
Sumber: Chen & M. Lui, 2005

H. Plat wafel


Untuk beban lantai yang sangat berat atau untuk bentang yang panjang maka sistem plat wafel dimungkinkan untuk digunakan. Plat wafel dapat digambarkan sebagai plat datar yang sangat tebal, tetapi dengan grid kotak-kotak untuk mengurangi berat dan mendapatkan efisiensi. (gambar)

Desain penulangan lentur berdasarkan pada lajur-lajur penampang T sebagai pengganti lajur palat persegi. Pada sekeliling pendukung kolom, lubang-lubang grid dapat diisi untuk menahan kepala kolom.

Gambar Struktur plat wafel

Sumber: Chen & M. Lui, 2005


7.4.5. Struktur Kolom Beton Bertulang

7.4.6. Dinding : Aplikasi Konstruksi Beton bertulang


Pertanyaan pemahaman:

10. Apakah kelebihan dan kekurangan bahan beton sebagai material struktur bangunan?
11. Sebutkan beberapa sifat dan karakteristik bahan beton?
12. Uraikan material penyusun beton bertulang?
13. Sebutkan dan jelaskan beberapa sistem konstruksi beton untuk struktur bangunan?
14. Sebutkan syarat-syarat untuk penampang balok atau plat beton bertulang?
15. Sebutkan syarat-syarat penulangan beton bertulang?
16. Sebutkan syarat-syarat kekuatan beton bertulang
17. Jelaskan prosedur untuk menghitung struktur untuk konstruksi balok, plat, dan kolom beton?

Tugas pendalaman:

Cari sebuah contoh bangunan dengan struktur kolom dan balok beton dengan plat di atasnya. Buat rancangan sederhana sebuah satuan unit struktur dengan komponen kolom, balok dan plat berdasarkan kasus bangunan tersebut. Lakukan perhitungan pengecekan untuk balok, kolom dan plat beton tersebut.

TEKNIK STRUKTUR BANGUNAN DENGAN KONSTRUKSI KAYU

8.1. Sifat Kayu sebagai Material Konstruksi


Selengkapnya: TEKNIK STRUKTUR BANGUNAN 


 


Pada struktur beton bertulang, tujuan desain harus mengandung:
− Mengatur sistem struktur yang mungkin dikerjakan dan ekonomis. Hal ini berkaitan dengan pemilihan kesesuaian model struktur, dan penataan lokasi dan pengaturan elemen-elemen struktur seperti kolom dan balok.
− Menentukan dimensi-dimensi struktural, ukuran penampang komponen struktur, termasuk tebal selimut beton. [ SELENGKAPNYA ]