Di kawasan pergudangan Surabaya yang masih basah oleh hujan dini hari, suara forklift sudah bersahutan sejak pukul lima pagi. Tumpukan besi beton dan lembaran wiremesh tersusun rapi seperti barisan pasukan yang siap berangkat perang. Bau besi bercampur aroma kopi hitam dari warung depan gudang membuat suasana pagi terasa akrab bagi para pekerja.
“Yang ke Tanjung Selor siap duluan!” teriak Pak Harun sambil memegang kertas pengiriman.
Rizal mengangguk cepat. Ia sudah hampir tujuh tahun menangani pengiriman material konstruksi ke luar pulau. Baginya, mengirim besi beton bukan cuma urusan barang sampai tujuan. Ada rasa bangga setiap kali melihat proyek besar berdiri dari material yang mereka kirim.
Hari itu ada dua pengiriman besar sekaligus. Satu menuju Tanjung Selor di Kalimantan Utara, satu lagi ke Makassar. Dua kota dengan karakter berbeda, tapi sama-sama sedang berkembang pesat.
Truk pertama mulai dinaikkan muatan wiremesh ukuran M8. Lembaran besi itu diikat kuat memakai sling baja agar tidak bergeser selama perjalanan menuju pelabuhan.
“Kalau sampai geser sedikit saja, bisa repot nanti di kapal,” gumam Beni sambil mengecek tali pengikat.
Rizal menatap daftar pesanan di tangannya. Proyek di Tanjung Selor ternyata pembangunan kawasan pergudangan dan akses jalan baru dekat pelabuhan sungai. Sementara di Makassar, besi beton akan dipakai untuk pembangunan ruko dan gudang logistik.
“Sekarang daerah-daerah luar Jawa cepet banget majunya,” kata Rizal.
Pak Harun tersenyum kecil.
“Makanya kebutuhan besi makin gila. Dulu kirim paling cuma satu dua ton. Sekarang bisa puluhan ton tiap minggu.”
Menjelang siang, truk menuju pelabuhan akhirnya berangkat. Langit Surabaya mulai cerah. Jalanan ramai oleh kendaraan proyek dan kontainer. Di sepanjang perjalanan, Rizal terus berkomunikasi dengan sopir lewat HT.
“Pastikan masuk pelabuhan sebelum antre panjang,” pesannya.
Pengiriman ke luar pulau memang tidak pernah sederhana. Ada jadwal kapal, cuaca laut, dokumen bongkar muat, sampai risiko keterlambatan akibat ombak besar. Tapi justru di situlah tantangannya.
Dua hari kemudian, kapal menuju Kalimantan mulai memasuki perairan Tanjung Selor. Hujan turun deras sejak pagi. Sungai terlihat kecokelatan dan arus cukup kuat. Di pelabuhan kecil itu, beberapa pekerja sudah menunggu sejak subuh.
Mandor proyek bernama Wahyu tampak lega saat melihat material datang.
“Akhirnya datang juga! Besok pengecoran dimulai,” katanya sambil tertawa.
Wiremesh segera diturunkan perlahan menggunakan crane kecil. Lumpur di sekitar lokasi membuat pekerja harus ekstra hati-hati. Namun semua terasa lebih ringan karena material datang tepat waktu.
Sementara itu di Makassar, suasananya berbeda. Pelabuhan jauh lebih ramai dan panas matahari terasa menyengat. Truk-truk kontainer berlalu lalang tanpa henti. Besi beton yang dikirim dari Surabaya langsung dibawa menuju kawasan pembangunan pergudangan dekat pusat distribusi.
Rizal menerima video dari pelanggan di Makassar. Tampak puluhan batang besi beton sedang dibongkar dengan cepat.
“Barang aman semua, Pak. Besinya bagus,” suara pelanggan terdengar dari video.
Rizal tersenyum puas.
Malam harinya, ia duduk di depan gudang sambil menikmati kopi sachet hangat. Angin malam membawa aroma laut samar-samar dari arah pelabuhan. Di belakangnya, stok wiremesh baru sudah mulai datang lagi untuk pengiriman berikutnya.
Kadang orang hanya melihat bangunan megah yang sudah jadi. Gedung tinggi, jalan beton panjang, gudang besar, atau pelabuhan modern. Tapi sedikit yang tahu tentang perjalanan panjang material sebelum semua itu berdiri.
Tentang pekerja gudang yang mengangkat besi sejak subuh. Tentang sopir yang menembus hujan antarkota. Tentang kapal yang melawan ombak malam. Tentang orang-orang yang memastikan setiap batang besi tiba tepat waktu.
Rizal menatap tumpukan besi di gudang sambil tersenyum kecil.
“Besok kirim lagi ke luar pulau?”
Pak Harun mengangguk santai.
“Ada. Minggu depan ke Balikpapan sama Kendari.”
Rizal tertawa pelan.
Perjalanan besi beton dan wiremesh ternyata memang tidak pernah benar-benar berhenti.
Hujan baru saja reda ketika telepon gudang kembali berdering keras menjelang pagi. Rizal yang masih setengah mengantuk segera mengambil ponselnya. Di layar muncul nama Pak Harun.
“Zal, bangun. Ada order besar masuk.”
Rizal langsung duduk tegak.
“Ke mana lagi, Pak?”
“Balikpapan, Kendari… sama tambahan Makassar lagi.”
Rizal mengusap wajahnya pelan lalu tertawa kecil.
“Belum juga dingin gudangnya.”
“Justru itu bagus,” jawab Pak Harun. “Artinya proyek jalan terus.”
Satu jam kemudian gudang sudah kembali hidup. Lampu-lampu besar menyala terang. Suara mesin potong besi, forklift, dan obrolan pekerja bercampur menjadi irama yang sudah akrab di telinga mereka.
Tumpukan wiremesh baru datang dari pabrik sejak tengah malam. Besi beton berbagai ukuran juga mulai disusun berdasarkan tujuan pengiriman. Ada yang menuju proyek jalan, pembangunan ruko, hingga gudang industri.
Di sudut gudang, Beni sedang mencatat jumlah material sambil mengunyah roti.
“Makassar minta tambahan banyak banget,” katanya. “Katanya proyek berkembang lebih cepat dari perkiraan.”
Rizal mendekat melihat daftar pesanan.
“Wajar sih,” katanya. “Sekarang kota-kota luar Jawa juga berlomba bangun kawasan industri.”
Pak Harun keluar dari ruang kantor sambil membawa map biru tebal.
“Kali ini beda,” ucapnya. “Ada proyek besar di daerah pelabuhan Makassar. Mereka butuh pengiriman bertahap.”
“Berapa ton?” tanya Rizal.
Pak Harun menarik napas.
“Hampir satu kapal penuh.”
Semua langsung saling pandang.
Bagi mereka, jumlah sebesar itu bukan pengiriman biasa. Artinya koordinasi harus jauh lebih rapi. Salah hitung sedikit saja bisa membuat jadwal proyek kacau.
Sejak pagi suasana gudang berubah lebih sibuk dari biasanya. Truk keluar masuk tanpa henti. Para pekerja memeriksa ulang ikatan wiremesh agar aman selama perjalanan laut.
Di sela kesibukan itu, Rizal memperhatikan seorang anak muda baru bernama Arga. Umurnya mungkin baru dua puluh tahun. Badannya kurus, tapi gerakannya cepat.
“Baru pertama kerja di gudang?” tanya Rizal.
Arga mengangguk.
“Iya, Mas.”
“Kaget?”
“Lumayan,” jawabnya sambil tertawa kecil. “Saya kira kerja besi cuma angkat barang.”
Rizal ikut tertawa.
“Kalau cuma angkat barang, semua orang juga bisa. Yang susah itu tanggung jawabnya.”
Arga terlihat bingung.
Rizal menunjuk ke arah truk yang sedang dimuat.
“Itu besi nanti dipakai buat bangunan orang. Kalau salah kirim atau telat datang, proyek bisa berhenti.”
Arga mengangguk pelan, mulai mengerti.
Menjelang malam, pengiriman pertama menuju Makassar akhirnya berangkat ke pelabuhan. Langit terlihat gelap dan angin mulai kencang. Beberapa pekerja khawatir cuaca laut memburuk.
“Semoga ombaknya aman,” kata Beni sambil melihat berita cuaca di ponsel.
Namun ternyata kekhawatiran itu benar terjadi.
Dua hari kemudian kapal yang membawa sebagian material harus tertahan di tengah perjalanan akibat cuaca buruk. Gelombang tinggi membuat kapal tidak bisa bergerak cepat.
Rizal menerima kabar itu saat sedang mengecek stok gudang.
“Berapa lama tertahan?” tanyanya cemas.
“Nggak tahu pasti,” jawab suara dari telepon. “Kapten kapal masih nunggu kondisi aman.”
Pak Harun langsung menghela napas panjang.
“Kalau terlambat terlalu lama, proyek bisa marah besar.”
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, suasana gudang terasa tegang. Pelanggan di Makassar terus menghubungi mereka menanyakan posisi kapal.
Rizal mencoba tetap tenang.
“Kita kasih update terus saja. Jangan sampai mereka merasa ditinggal.”
Hari itu hampir semua pekerja ikut memantau perkembangan cuaca. Bahkan Arga yang biasanya pendiam ikut duduk dekat kantor sambil melihat berita laut.
“Baru tahu pengiriman besi bisa serumit ini,” katanya pelan.
Rizal tersenyum tipis.
“Makanya jangan remehkan pekerjaan gudang.”
Untungnya setelah dua hari, cuaca mulai membaik. Kapal akhirnya kembali melanjutkan perjalanan menuju Makassar.
Begitu kabar itu datang, seluruh gudang terasa lega.
“Alhamdulillah,” ucap Pak Harun sambil menepuk meja.
Ketika kapal tiba di Makassar, suasana pelabuhan langsung ramai. Proyek ternyata sudah menunggu material itu sejak pagi. Crane besar bergerak cepat menurunkan wiremesh dan besi beton.
Mandor proyek di Makassar melakukan video call dengan Rizal.
Di layar terlihat pekerja proyek sibuk mondar-mandir. Suara mesin cor terdengar keras di belakang.
“Pak Rizal, akhirnya datang juga!” katanya sambil tertawa lega.
“Maaf sempat terlambat karena cuaca.”
“Nggak apa-apa. Yang penting barang aman.”
Rizal memperhatikan area proyek di belakang layar. Bangunan gudang raksasa mulai terlihat berdiri. Tiang-tiang baja menjulang tinggi.
“Cepat juga progresnya,” katanya kagum.
“Makassar sekarang berkembang pesat, Pak,” jawab mandor itu. “Pelabuhan makin ramai. Kawasan industri baru juga mulai dibangun.”
Sore harinya, Rizal duduk sendiri di depan gudang sambil melihat langit jingga. Aktivitas mulai sepi setelah seharian penuh bekerja.
Arga datang membawa dua gelas kopi.
“Mas, kopi.”
“Wah, makasih.”
Mereka duduk berdampingan di atas bangku kayu depan gudang.
“Mas Rizal,” kata Arga pelan, “kenapa betah kerja beginian bertahun-tahun?”
Rizal terdiam sebentar.
Ia memandang tumpukan besi yang mulai terkena cahaya lampu malam.
“Karena saya suka lihat hasilnya,” jawabnya akhirnya.
“Hasil?”
“Iya. Dulu saya pernah kirim besi buat proyek jembatan. Beberapa tahun kemudian saya lewat situ… dan jembatannya berdiri megah.”
Arga mendengarkan serius.
“Kadang kita nggak sadar,” lanjut Rizal, “kalau pekerjaan kecil yang kita lakukan ternyata ikut membangun kota.”
Angin malam berhembus pelan membawa aroma laut.
Di kejauhan terdengar suara truk lain mulai masuk ke area gudang.
Beni berjalan mendekat sambil tertawa.
“Belum selesai istirahatnya. Ada order baru lagi!”
Rizal langsung menggeleng sambil tertawa kecil.
“Ke mana sekarang?”
“Kali ini balik lagi ke Tanjung Selor. Tambahan wiremesh sama besi ulir.”
Arga tampak kaget.
“Cepat banget?”
Pak Harun yang baru keluar kantor ikut tersenyum.
“Namanya pembangunan nggak pernah tidur.”
Malam itu gudang kembali hidup. Forklift menyala lagi. Para pekerja mulai menyiapkan material baru. Suara besi bergesekan terdengar memenuhi ruangan.
Arga kini bergerak lebih percaya diri membantu proses pengikatan wiremesh.
Rizal memperhatikannya sambil tersenyum.
Beberapa minggu lalu anak itu bahkan belum tahu perbedaan wiremesh dan besi beton. Sekarang ia sudah ikut memahami bagaimana pentingnya setiap pengiriman.
Menjelang tengah malam, truk terakhir akhirnya selesai dimuat.
Langit Surabaya terlihat cerah setelah beberapa hari hujan. Lampu-lampu kota memantul di permukaan jalan yang masih sedikit basah.
Rizal berdiri di dekat gerbang gudang saat truk mulai keluar satu per satu menuju pelabuhan.
Di bak belakang, tumpukan wiremesh dan besi beton terlihat kokoh terikat.
Ia menarik napas panjang.
Perjalanan panjang akan dimulai lagi. Menembus jalan antarkota, masuk pelabuhan, naik kapal, melawan ombak, lalu tiba di kota yang sedang tumbuh.
Dan seperti biasa, ketika bangunan besar nanti berdiri megah di Tanjung Selor atau Makassar, mungkin tidak banyak orang tahu dari mana besi-besi itu berasal.
Namun bagi Rizal dan seluruh pekerja gudang, mereka tahu satu hal.
Di balik setiap gedung, jalan, dan gudang yang berdiri kokoh… selalu ada cerita panjang tentang perjalanan besi dari sebuah gudang sederhana di Surabaya.

Share ke Pinterest . 