Pernah dengar cerita bangunan retak padahal baru beberapa bulan selesai dibangun? Atau kolom terlihat “kok goyang ya?” padahal sudah dicor rapi dan diplester halus? Masalahnya sering kali bukan di semen, bukan di tukangnya semata—tapi di besi beton yang dipasang asal-asalan.
Besi beton itu ibarat tulang pada tubuh manusia. Dari luar mungkin tidak terlihat, tapi justru dialah yang memegang peran utama dalam kekuatan struktur. Terutama pada kolom dan balok—dua elemen paling vital dalam konstruksi bangunan.
Sayangnya, masih banyak kesalahan fatal saat memasang besi beton di kolom dan balok. Kesalahan yang terlihat sepele, tapi dampaknya bisa luar biasa besar. Mulai dari retak rambut, lendutan berlebihan, sampai risiko runtuh dalam jangka panjang.
Di artikel ini, kita akan kupas tuntas kesalahan-kesalahan tersebut—lengkap dengan penjelasan teknis yang mudah dipahami. Supaya Anda tidak hanya membangun, tapi membangun dengan benar.
1. Salah Memilih Diameter dan Jenis Besi Beton
Kesalahan pertama dan paling sering terjadi adalah penggunaan diameter besi yang tidak sesuai perhitungan struktur.
Banyak orang berpikir, “Yang penting pakai besi, aman.” Padahal tidak sesederhana itu.
Dalam struktur kolom dan balok, diameter besi utama (tulangan pokok) sudah ditentukan berdasarkan:
Beban mati (berat bangunan)
Beban hidup (aktivitas penghuni)
Beban tambahan (atap, tangki air, dll.)
Panjang bentang
Jumlah lantai
Jika diameter terlalu kecil, struktur bisa mengalami:
Retak pada balok
Kolom tidak mampu menahan beban aksial
Lendutan berlebihan
Sebaliknya, terlalu besar tanpa perhitungan juga bukan solusi. Selain boros biaya, distribusi beton bisa terganggu.
Di Jayasteel, kami sering menemui proyek yang awalnya ingin “hemat”, tapi akhirnya justru harus perbaikan karena spesifikasi besinya tidak sesuai standar struktur.
2. Jarak Antar Tulangan Tidak Sesuai
Pernah melihat besi kolom yang dipasang terlalu rapat atau justru terlalu renggang?
Ini kesalahan klasik.
Jarak antar tulangan utama dan begel (sengkang) dalam kolom dan balok harus mengikuti perencanaan teknis. Jika terlalu renggang:
Beton tidak terkekang dengan baik
Kolom rentan retak dan pecah
Daya tahan terhadap gempa menurun drastis
Jika terlalu rapat:
Beton sulit masuk saat pengecoran
Muncul rongga (honeycomb)
Ikatan beton dan besi tidak maksimal
Balok dan kolom bukan sekadar “dirangkai besi lalu dicor”. Ada standar jarak minimum dan maksimum yang harus dipenuhi.
3. Penempatan Tulangan Tidak Presisi
Dalam balok, tulangan tarik harus berada di posisi yang tepat—biasanya di bagian bawah balok untuk bentang biasa.
Jika tulangan bergeser ke tengah atau naik ke atas karena tidak diikat dengan benar, maka fungsi menahan gaya tarik menjadi tidak optimal.
Begitu juga pada kolom. Tulangan utama harus berada di posisi sudut dan tersebar merata sesuai desain.
Kesalahan kecil dalam posisi bisa menyebabkan distribusi beban tidak merata. Dan dalam dunia struktur, ketidakseimbangan kecil bisa berkembang menjadi masalah besar.
4. Selimut Beton Terlalu Tipis atau Terlalu Tebal
Selimut beton (concrete cover) adalah jarak antara permukaan beton dan besi tulangan.
Ini bukan sekadar jarak kosong. Fungsinya sangat penting:
Melindungi besi dari korosi
Menjaga daya tahan terhadap api
Memastikan ikatan beton dan baja optimal
Jika selimut terlalu tipis:
Besi mudah berkarat
Retak permukaan lebih cepat muncul
Umur bangunan berkurang
Jika terlalu tebal:
Efektivitas tulangan berkurang
Struktur tidak bekerja optimal sesuai desain
Standar selimut beton biasanya berkisar 25–40 mm tergantung kondisi lingkungan. Tapi di lapangan, sering kali diabaikan.
5. Sambungan Besi Tidak Sesuai Panjang Penyaluran
Kesalahan berikutnya yang sangat fatal adalah sambungan (overlapping) besi beton yang terlalu pendek.
Tulangan tidak boleh disambung sembarangan. Ada panjang penyaluran minimum (development length) yang harus dipenuhi agar gaya bisa diteruskan dengan baik.
Jika overlap terlalu pendek:
Gaya tarik tidak tersalurkan sempurna
Sambungan bisa lepas saat menerima beban
Risiko retak struktural meningkat
Di proyek-proyek profesional, panjang sambungan sudah dihitung berdasarkan diameter besi dan mutu beton. Ini bukan perkiraan, tapi hasil perhitungan teknik.
6. Pengikatan Sengkang yang Longgar
Sengkang atau begel berfungsi:
Mengikat tulangan utama
Menahan gaya geser
Mencegah buckling pada kolom
Namun sering kali pengikatannya asal-asalan. Kawat bendrat hanya diputar sedikit, tidak kencang, bahkan ada yang terlepas saat pengecoran.
Akibatnya?
Tulangan bisa bergeser saat beton dituangkan. Posisi berubah, jarak berubah, dan akhirnya struktur tidak sesuai desain.
Hal seperti ini sering tidak terlihat dari luar. Tapi dampaknya bisa terasa bertahun-tahun kemudian.
7. Menggunakan Besi Berkarat Parah
Besi beton memang bisa memiliki karat ringan (karat permukaan tipis). Itu masih normal.
Tapi jika:
Karat sudah mengelupas
Diameter menyusut
Permukaan rapuh
Maka itu sudah berbahaya.
Besi yang terkorosi parah kehilangan kekuatan tariknya. Dalam struktur kolom dan balok, ini jelas tidak bisa ditoleransi.
Karena itu, pemilihan material sejak awal sangat menentukan. Material berkualitas bukan hanya soal harga—tapi soal keamanan jangka panjang.
8. Tidak Mengikuti Gambar Struktur
Ini mungkin terdengar sepele, tapi sering terjadi.
Di lapangan, tukang kadang “mengira-ngira” atau mengubah detail tanpa konsultasi:
Mengurangi jumlah tulangan
Mengubah jarak sengkang
Mengganti diameter tanpa persetujuan
Padahal gambar struktur dibuat oleh insinyur berdasarkan perhitungan matang.
Mengubah satu elemen saja bisa mengganggu keseimbangan seluruh sistem struktur.
Bangunan itu sistem yang saling terhubung. Kolom, balok, pelat, pondasi—semuanya bekerja bersama. Jika satu melemah, yang lain ikut terdampak.
9. Tidak Memperhatikan Detail di Daerah Sendi Plastis
Pada bangunan tahan gempa, ada area kritis yang disebut daerah sendi plastis.
Di area ini:
Jarak sengkang harus lebih rapat
Penyaluran tulangan harus lebih diperhatikan
Detailing harus sangat presisi
Jika detail ini diabaikan, bangunan kehilangan kemampuan disipasi energi saat gempa.
Indonesia adalah wilayah rawan gempa. Jadi kesalahan kecil dalam detail kolom dan balok bisa berdampak sangat besar.
10. Mengabaikan Kualitas Material Demi Harga Murah
Ini realita di lapangan.
Banyak proyek tergoda memilih besi beton termurah tanpa memperhatikan:
Sertifikasi mutu
Standar SNI
Konsistensi diameter
Berat aktual per batang
Padahal selisih kecil dalam mutu bisa berpengaruh besar dalam kekuatan tarik.
Di Jayasteel, kami selalu menekankan pentingnya material sesuai standar. Karena dalam struktur, kompromi kecil bisa menjadi risiko besar di masa depan.
Kenapa Kesalahan Ini Berbahaya?
Kolom dan balok adalah tulang punggung bangunan.
Kolom menahan beban vertikal.
Balok mendistribusikan beban ke kolom.
Jika salah satu gagal, struktur bisa mengalami:
Retak besar
Lendutan permanen
Penurunan kekuatan signifikan
Dalam kasus ekstrem, runtuh parsial atau total
Yang lebih mengkhawatirkan, kesalahan pemasangan besi sering tidak terlihat setelah bangunan selesai.
Semua tertutup plester dan cat.
Masalah baru muncul ketika sudah terlambat.
Cara Menghindari Kesalahan Fatal Ini
Gunakan gambar struktur dari perencana profesional
Pastikan diameter dan jumlah tulangan sesuai spesifikasi
Perhatikan jarak sengkang dan tulangan
Pastikan selimut beton sesuai standar
Gunakan material bersertifikasi
Awasi proses pemasangan sebelum pengecoran
Pengawasan sebelum cor adalah momen paling krusial. Setelah beton dituangkan, hampir tidak ada jalan kembali tanpa pembongkaran.
Bangun dengan Standar, Bukan Sekadar Berdiri
Membangun rumah, ruko, gudang, atau bangunan bertingkat bukan hanya soal berdiri kokoh hari ini. Tapi tentang ketahanan 10, 20, bahkan 50 tahun ke depan.
Kesalahan fatal saat memasang besi beton di kolom dan balok sering kali terjadi bukan karena niat buruk—melainkan karena kurang pemahaman atau ingin cepat selesai.
Padahal, detail kecil dalam struktur adalah pembeda antara bangunan yang kuat dan bangunan yang bermasalah.
Struktur yang benar bukan yang terlihat paling tebal, tapi yang paling tepat perhitungannya.
Dan semua itu dimulai dari pemilihan material, pemasangan sesuai standar, serta pengawasan yang disiplin.
Karena pada akhirnya, bangunan bukan hanya tentang beton dan baja. Tapi tentang keamanan, investasi, dan ketenangan pikiran jangka panjang.
Jangan sampai kesalahan yang tidak terlihat hari ini menjadi penyesalan besar di kemudian hari.

Share ke Pinterest . 