Sistem Struktur dengan Konstruksi Beton

 Sistem struktur dengan konstruksi beton masih menjadi pilihan utama dalam konstruksi bangunan.  Selain kemudahan fabrikasi dan kuat tekan yang tinggi, beberapa pertimbangan lainnya antara lain kemudahan memperoleh bahan penyusun dan kontinuitas proses suplai dalam proses produksi. ... SELENGKAPNYA


Pilihan utama dalam konstruksi bangunan masih tetap pada sistem struktur dengan konstruksi beton. Selain kemudahan dalam fabrikasi dan kekuatan tekan yang tinggi, beberapa faktor lain yang dipertimbangkan termasuk kemudahan mendapatkan bahan konstruksi yang diperlukan dan kelancaran proses pasokan dalam tahapan produksi.


Tak dapat disangkal bahwa sistem struktur dengan konstruksi beton tetap menjadi pilihan utama dalam industri konstruksi bangunan hingga saat ini. Keunggulan-keunggulan yang dimilikinya membuatnya tetap menjadi favorit di antara beragam metode konstruksi yang ada. Selain kemampuannya dalam fabrikasi yang relatif mudah, beton juga dikenal memiliki kekuatan tekan yang tinggi, mampu memberikan stabilitas dan daya tahan yang dibutuhkan oleh bangunan.

Selain itu, salah satu pertimbangan penting dalam memilih sistem struktur beton adalah kemudahan dalam memperoleh bahan penyusunnya. Bahan-bahan yang digunakan dalam konstruksi beton, seperti semen, agregat, dan air, serta baja tulangan, umumnya tersedia dengan cukup melimpah di pasar. Hal ini memudahkan para pelaku konstruksi dalam memperoleh dan mengatur pasokan bahan-bahan tersebut secara kontinu, sehingga proses produksi dapat berlangsung tanpa hambatan yang berarti.

Kemudahan akses terhadap bahan penyusun beton ini memberikan keuntungan tambahan dalam hal efisiensi waktu dan pengelolaan proyek. Dengan pasokan bahan yang terjamin, kontraktor dan pengembang proyek dapat memperkirakan dengan lebih akurat jadwal produksi, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, dan memastikan kelancaran proses konstruksi secara keseluruhan.

Dalam era konstruksi yang semakin dinamis, sistem struktur beton terus menunjukkan kehandalannya. Jayasteel, sebagai mitra terpercaya dalam industri ini, menyadari pentingnya menjaga kualitas dan ketersediaan pasokan bahan beton yang memadai. Kami berkomitmen untuk memberikan solusi terbaik dalam menyediakan bahan konstruksi yang Anda butuhkan, memastikan kelancaran proses konstruksi yang Anda lakukan, serta mendukung keberhasilan proyek-proyek konstruksi Anda dengan penuh semangat.


Tulangan dalam konstruksi beton

Mari kita bahas tentang tulangan dalam konstruksi beton. Seperti yang kita ketahui, beton memiliki keterbatasan dalam menahan gaya tarik melebihi batas tertentu tanpa mengalami retak. Oleh karena itu, untuk memastikan beton berfungsi dengan baik dalam sistem struktural, diperlukan penguatan dengan menggunakan tulangan. Tulangan beton ini berperan dalam menahan gaya tarik yang terjadi. Bahan yang umum digunakan untuk tulangan adalah baja, yang memiliki kekuatan teknis yang tinggi dalam menahan gaya tarik.

Tulangan beton biasanya menggunakan batang baja lurus atau kawat anyaman yang dikenal sebagai wire mesh. Batang baja tersebut dihubungkan dengan teknik pengelasan. Kode identifikasi yang digunakan untuk baja tulangan adalah BJ, TP, dan TD. BJ menunjukkan bahwa itu adalah Baja, TP menunjukkan Tulangan Polos, dan TD menunjukkan Tulangan Deformasi (Ulir).

Angka yang mengikuti kode tulangan ini mengindikasikan batas leleh karakteristik yang dijamin. Misalnya, baja tulangan BJTP 24 adalah baja beton polos, sedangkan baja tulangan BJTD 40 memiliki bentuk yang deformasi atau ulir (lihat gambar).

Penggunaan baja tulangan dalam konstruksi harus memenuhi persyaratan standar pengujian dan inspeksi untuk memastikan mutu berbagai jenis baja tulangan sesuai dengan yang tertera dalam Tabel dibawah.

Jayasteel memahami pentingnya memenuhi persyaratan mutu dalam penggunaan baja tulangan. Sebagai mitra Anda dalam proyek konstruksi, kami menyediakan berbagai jenis dan mutu baja tulangan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Dengan Jayasteel, Anda dapat yakin bahwa tulangan yang Anda gunakan memenuhi persyaratan teknis dan dapat diandalkan dalam memperkuat struktur beton Anda.


Gambar Jenis baja tulangan


Tabel Karakteristik baja tulangan


Dalam perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung, berdasarkan SNI 03-2847-2002, disarankan menggunakan baja tulangan ulir. Baja polos dapat digunakan untuk tulangan spiral atau tendon. Spesifikasi baja tulangan umumnya mengacu pada standar ASTM (American Society for Testing Materials) yang meliputi:

- "Spesifikasi untuk batang baja billet ulir dan polos untuk penulangan beton" (ASTM A615M).
- "Spesifikasi untuk batang baja axle ulir dan polos untuk penulangan beton" (ASTM A617M).
- "Spesifikasi untuk baja ulir dan polos low-alloy untuk penulangan beton" (ASTM A706M).

Di Indonesia, produksi baja tulangan dan baja struktur diatur sesuai dengan Standar Industri Indonesia (SII), seperti SII 0136-80 dan SII 318-80.

Selain mutu baja beton BJTP 24 dan BJTD 40 yang tercantum dalam tabel, mutu baja lainnya juga dapat dipesan secara khusus, seperti BJTP 30. Namun, perlu diingat bahwa waktu pemesanan khusus ini biasanya lebih lama dan harganya lebih tinggi. Untuk menghindari kesalahan saat pemasangan, lokasi penyimpanan baja yang dipesan khusus perlu dipisahkan dari baja BJTP 24 dan BJTD 40 yang umum digunakan.

Sifat fisik baja beton dapat ditentukan melalui pengujian tarik, dengan menggunakan diagram seperti yang terlihat pada gambar 10.4. Beberapa sifat fisik yang diukur meliputi kekuatan tarik (fy), batas luluh/leleh, regangan pada beban maksimal, dan modulus elastisitas (Es).

Produk tulangan baja beton memiliki variasi yang cukup banyak. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan di lapangan, diterapkan beberapa toleransi terhadap penyimpangan yang mungkin terjadi. Toleransi terhadap penyimpangan pada kondisi baja di lapangan dijelaskan dalam tabel berikut.



Tabel Penyimpangan yang diizinkan untuk panjang batang

Sumber: Sagel dkk, 1994 Panjang Toleransi Di bawah 12 meter Minus 0 mm Plus 40 mm Mulai 12 meter ke atas Minus 0 mm Plus 50 mm



Tabel Penyimpangan atau toleransi yang diijinkan untuk massa teoretis per panjang


Sumber: Sagel dkk, 1994 Diameter (mm) Toleransi (%) Kurang dari 10 mm 10 mm – 16 mm 16 mm – 28 mm Lebih dari 28 mm ± 7 % ± 6 % ± 5 % ± 4 %



Tabel Penyimpangan yang diizinkan untuk berat teoretis


Sumber: Sagel dkk, 1994 Diameter (mm) Toleransi (%) Kurang dari 10 mm 10 mm – 16 mm 16 mm – 28 mm Lebih dari 28 mm ± 6 % ± 5 % ± 4 % ± 3 %




Tabel penyimpangan yang diizinkan dari diameter nominal

Sumber: Sagel dkk, 1994 Diameter (mm) Toleransi (%) Penyimpangan kebundaran Sampai dengan 14 mm 16 mm – 25 mm 28 mm – 34 mm 36 mm – 50 mm ± 0,4 mm ± 0,5 mm ± 0,6 mm ± 0,8 mm Maksimum 70 % dari batas normal 1. lingkup pekerjaan dan peraturan bangunan 346



Gambar Diagram tegangan-regangan


Sumber: Sagel dkk, 1994 0 – 1 1 – 2 2 – 3 3 – 4 4 – 5


0 - 1 Daerah elastis
1 - 2 Daerah di mana – (besar tegangan hampir tak berubah) – terjadi plastis deformasi yang besar (meleleh)
2 - 3 Daerah, untuk memperbesar regangan dibutuhkan pertambahan tegangan (daerah penguatan)
3 - 4 Daerah dimana regangan membesar sampai 15-20% tanpa memberi pertambahan tegangan yang berarti
4 - 5 Terjadi penyempitan (konstraksi) – perubahan bentuk setempat yang besar – dimana suatu penampang batang mengecil sedemikian sehingga batang akan patah di tempat ini

Posting Komentar