Dasar-Dasar Tegangan STATIKA BANGUNAN

Dasar-dasar tegangan statika Bangunan merupakan konsep yang penting dalam desain struktur. Teori ini menjelaskan bagaimana gaya yang bekerja pada struktur akan mempengaruhi tegangan yang terjadi. Teori ini juga menjelaskan bagaimana gaya-gaya ini mengalir melalui struktur dan bagaimana tegangan dapat dikontrol. Teori ini juga memungkinkan desainer untuk menentukan jumlah gaya yang diperlukan untuk menahan beban pada struktur yang diberikan.

Dasar-dasar tegangan statika Bangunan meliputi beberapa konsep penting, seperti gaya, tegangan, dan deformasi. Gaya adalah kekuatan yang diterapkan pada struktur. Tekanan adalah gaya per satuan luas yang diterapkan pada struktur. Deformasi adalah perubahan bentuk yang terjadi pada struktur akibat gaya yang diterapkan.

Konsep lain yang penting dalam teori tegangan statika adalah gaya gaya geser, tarik, dan tekan. Gaya geser adalah gaya yang diterapkan pada struktur dan menyebabkan struktur bergerak secara melingkar. Gaya tarik adalah gaya yang diterapkan pada struktur dan menyebabkan struktur bergerak secara linear. Gaya tekan adalah gaya yang diterapkan pada struktur dan menyebabkan struktur mengalami penekanan.

Konsep lain yang penting dalam teori tegangan statika adalah konsep keseimbangan. Keseimbangan menyatakan bahwa jumlah gaya yang bekerja pada struktur harus sama dengan jumlah gaya yang menolak struktur. Ini berarti bahwa jika satu gaya meningkat, maka gaya lainnya harus menurun untuk mempertahankan keseimbangan.

Dasar-dasar tegangan statika Bangunan memungkinkan desainer untuk memahami bagaimana gaya bekerja pada struktur dan bagaimana tegangan dapat dikontrol. Ini juga memungkinkan desainer untuk menghitung jumlah gaya yang diperlukan untuk menahan beban pada struktur yang diberikan.


Elemen-elemen Sistem Struktur Bangunan
. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Struktur

Statika Konstruksi Balok Sederhana
 Analisis Rangka Batang (Truss) Sederhana

3.7. Dasar-Dasar Tegangan STATIKA BANGUNAN

3.7.1. Tegangan Normal STATIKA BANGUNAN


Pengetahuan dan pengertian tentang bahan dan perilakunya jika mendapat gaya atau beban sangat dibutuhkan di bidang teknik bangunan. Jika suatu batang prismatik, dengan luas tampang seragam di sepanjang batang, menerima beban atau gaya searah dengan panjang batang, maka gaya tersebut akan menimbukan tegangan atau tekanan pada tampang batang. Tegangan atau tekanan merupakan besaran gaya per satuan luas tampang. Sehingga besar tegangan yang dialami batang prismatik tersebut masing-masing sebesar T/A dan P/A. Pada gambar, A merupakan luas tampang melintang batang yang dikena T atau P pada .

Gambar Tegangan normal tarik pada batang prismatik

Sumber: Hasil penggambaran

R R 􀄮= 35°

Gambar Tegangan normal tekan pada batang prismatik

Sumber: Hasil penggambaran


Jika batang tersebut menerima gaya tarikan (Gambar), maka akan timbul tegangan tarik. Sedang jika batang menerima gaya tekan, (Gambar) akan menyebabkan tegangan tekan pada tampang melintang batang. Tegangan dinyatakan dengan simbol σ. Secara umum besaran tegangan dapat ditulis dengan formula sebagai berikut.

 σ = P / A
                                                         (3.5)

Dimana:
σ
= Tegangan
P = Besarnya gaya
A = Luas tampang

Menurut Hukum Hooke, setiap batang bahan akan berubah mengalami perubahan bentuk (deformasi), baik perpanjangan atau perpendekan saat menerima gaya. Bertambah panjang jika menerima tegangan tarik, bertambah pendek jika menerima gaya tekan. Perubahan panjang – pendek batang, diberi symbol δ, dipengaruhi oleh pajang batang, tegangan yang terjadi, dan modulus elastisitas dari bahan (E). Besaran perubahan akibat gaya tersebut dapat ditulis dengan formula sebagai berikut.

δ = ε L                     (3.6)
Dimana : δ = Perubahan panjang : perpanjangan / perpendekan
ε = Regangan bahan = σ / E
L = Panjang Batang
E = Modulus elatisitas bahan

3.7.2. Tegangan Geser (Shear) STATIKA BANGUNAN

Jika gaya normal/tangensial merupakan gaya sejajar arah memanjang batang, gaya geser merupakan gaya yang berarah tegak lurus dengan panjang batang. Ilustrasi geseran ditunjukkan pada Gambar. Batang vertikal pada gambar tersebut menerima geseran di dua bagian potongan m dan potongan n. Besaran tegangan geser dinyatakan dengan simbol τ dalam satuan. Jika besaran gaya geser (S) dikerjakan pada batang akan menimbulkan tegangan geser (τ) dengan formula sebagai berikut.

τ = S / A (3.7)
Dimana : τ = Tegangan geser (kg/mm2, kg/cm2, ton/m2
S = Gaya geser (kg, ton)
A = luas tampang tergeser (mm2, cm2, m2)

Gambar Geser pada sambungan baut
Sumber: Hasil penggambaran


3.7.3. Tegangan Torsi (Puntir)

Terkadang suatu komponen struktur menerima puntiran, kopel puntir atau momen puntiran. Puntiran tersebut menimbulkan tegangan geseran yang disebut sebagai tegangan geser puntir. Ilustrasi batang yang mengalami torsi ditunjukkan pada Gambar.

Gambar Batang yang mengalami puntiran (torsion)
Sumber: Hasil penggambaran


Besarnya tegangan yang diakibatkan oleh momen puntir/torsi pada tampang batang lingkaran dan lingkaran berlubang dituliskan dengan formula sebagai berikut.

τ = T . r / Ip     
                                    (3.8)

Dimana :
τ = Tegangan geser torsi
T = Besaran momen torsi
r = Jari-jari batang terputir
Ip = Momen inersia polar tampang tergeser:
Ip = π d4/32 untuk lingkaran pejal
Ip = π/32(d24-d14) untuk lingkaran berlubang

Gambar Torsi tampang lingkaran solid dan lingkaran berlubang

Sumber: Hasil penggambaran


3.7.4. Tegangan Lentur pada Balok - STATIKA BANGUNAN

Balok merupakan struktur yang menerima beban tegak lurus terhadap arah panjang. Karenanya balok umumnya mengalami lenturan dan geseran pada bagian di dekat dudukan. Gaya geser, sering disebut gaya lintang akan menyebabkan tegangan geser. Gambar menunjukkan diagram geser balok yang terjadi di sepanjang batang. Ditunjukkan pula diagram gaya momen yang menyebabkan lenturan pada balok. Momen penyebab lenturan tersebut disebut sebagai momen lentur.


Gambar  (a) Struktur balok yang mengalami lenturan dan geser
(b) Diagram tegangan akibat momen lentur

Sumber: Hasil penggambaran

Gaya geser dan momen lentur tersebut akan menyebabkan tegangan geser dan tegangan lentur. Tegangan lentur maksimum seperti terjadi pada batang tepat di bawah P, berjarak a dari dudukan A. Diagram momen lentur maksimum terjadi pada titik dimana geseran memiliki nilai = 0.
Sedangkan geseran maksimum terjadi umumnya di daerah dudukan. Pada gambar gaya lintang masimum/ D maks terjadi di atas dudukan B.

Terdapat dua macam momen lentur, momen lentur positif dan momen lentur negatif. Tampang balok yang mengalami lenturan positif akan mengalami tegangan dengan arah sejajar panjang batang (tegangan normal). Di bagian atas sumbu tengah tampang akan mengalami tegangan tekan (Compression Stress). Bagian bawah sumbu tampang mengalami tegangan tarik (tension stress).

Sedangkan tampang dengan lenturan negatif berlaku kebalikannya, tegangan tarik di bagian atas dan tegangan tekan di bagian bawah sumbu tampang. Besaran tegangan akibat lenturan pada balok dapat ditulis dengan formula sebagai berikut.

σ = M.y/I                                         (3.9)
Dimana:
σ = tegangan lentur yang terjadi pada batang
M = Momen lentur yang dialami balok
y = Jarak serat terjauh dari sumbu tampang
I = Momen inersia tampang balok
= 1/12 b h3 untuk tampang persegi panjang dengan lebar b dan tingg h
= π d4/64 untuk tampang lingkaran

3.7.5. Tegangan Geser pada Balok

Balok yang menerima lentur dapat mengalami geseran ke arah memanjang. Ilustrasi perilaku balok yang mengalami geseran pada arah memanjang beserta diagram tegangan geser yang terjadi ditunjukkan seperti pada Gambar.

Gambar Balok yang mengalami geseran arah memanjang

Sumber: Hasil penggambaran

Tegangan geser paling besar terjadi pada garis netral tampang. Besaran tegangan geser maksimum ke arah memanjang balok dengan tampang persegi panjang ditunjukkan gambar, dapat dihitung dengan formula sebagai berikut.

τmaks = 3 V / 2A                                     (3.10)
Dimana:
V = Gaya geser / gaya lintang
A = Luas tampang melintang batang
= b.h untuk tampang persegi panjang
Sedangkan formula tegangan geser maksimum yang terjadi untuk tampang lingkaran adalah sebagai berikut.

τmaks = 4 V/ 3πr2 = 4 V / 3A (3.11)
Dimana: V = Gaya geser / gaya lintang
A = Luas tampang melintang batang
= πr2 untuk tampang lingkaran

Selengkapnya : Teknik Struktur Bangunan

 



2

1

 

Posting Komentar